Sabtu, 05 November 2011

Ahl as-Sunnah Khalafiah-Maturidiyah; sejarah, metode dan doktrin teologis.

 
Ahl as-Sunnah Khalafiah-Maturidiyah; sejarah, metode dan doktrin teologis.
Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Studi Pemikiran Islam
Dosen pengampu:
Dr. Muniron M. Ag




 




                                            






Oleh :
Mukhtar Zaini Dahlan
0849110004


Kementrian Agama
Program Pascasarjana
Sekolah Tinggi Agama Islam Negri (STAIN) Jember
2010
Kata Pengantar

        Tiada kata yang patut kami ucapkan melainkan rasa syukur kehadirat Ilahi robbi. Yang telah melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya  sehingga penulis dapat menyelesaikan kajian walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana.
Sholawat serta salam selalu tercurahkan kepada Sayyidil Mursalin dan Khotamul Anbiya' Nabi Muhammad SAW. Yang telah memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di muka bumi ini dalam wujud Islam sebagai kebenaran.
Kehidupan beragama pada semua agama, tak terkecuali Islam senantiasa diwarnai ketegangan yang disebabkan oleh kesadaran masing-masing pemeluk sendiri terhadap kewajiban beribadah. Yang dapat menumbuhkan rasa taqwa dan rasa dosa. Sementara itu tuhan diyakini sebagai maha pengampun dan maha penyiksa.
Dalam Islam upaya untuk memahami sumber ketegangan itulah muncul adanya teologi atau ilmu kalam yang dengannya para ulama bermaksud mencari harmonisasi dari ketegangan yang terjadi. Di antara ulama itu adalah Al-maturidi.
Untuk itu dalam rangka tugas mata kuliah Studi Pemikiran Islam kami menyusun sebuah kajian yang kami beri judul Ahl as-Sunnah Khalafiah-Maturidiyah; sejarah, metode dan doktrin teologis.
Kami menyadari sepenuhnya bahwa kajian yang kami sajikan masih jauh dari sempurna. Namun bagi kami- sekali lagi- memang baru seperti ini yang dapat kami suguhkan. Kami tetap senantiasa membuka diri dari saran dan kritik, demi perbaikan di masa yang akan datang.
Akhirnya sebagai manusia yang jauh dari kesempurnaan, penulis panjatkan  doa semoga kajian ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, dan bagi pembaca pada umumnya. Amin ya robbal alamin.
           

Penulis

Mukhtar Zaini Dahlan

BAB I
SEJARAH

A.    Biografi Al-Maturidie
Sebagai nama tokoh yang memiliki nama besar, biografisnya praktis lebih kompleks jika dibandingkan dengan biografi kebanyakan.
1. Nama dan Gelar
 Nama Al-maturidi adalah bukan nama sebenarnya. Ia hanyalah nama popular yang dinisbatkan pada tempat kelahirannya, yakni maturid. Adapun nama yang sebenarnya adalah, Abu mansur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud al-Maturidi. Sebagai tokoh ternama, maka selain nama sendiri al-Maturidi banyak mendapatkan nama atau gelar ( laqab), baik dari murid-muridya ataupun masyarakat luas.
Bahkan Al-kafrawi manambahkan nama-nama-gelar lainnya yang lebih tegas lagi terhadap kesungguhan Al-maturid dalam menegakkan akidah ahlussunnah waljamaah.
2. Masa Hidup dan Nasab.
Dr Ayub Ali menerangkan bahwa al-Maturid di lahirkan sekitar pada tahun 248 H/862. adapun wafatnya Al-maturid adalah tahun 333H / 944 M. Dengan demikian, sekiranya Al-maturid hidup mendekati 100 tahun, tepatnya 85 tahu menurut perhitungan tahun hijriah atau 82 tahun menurut perhitungan masehi. Suatu hidup yang cukup panjang pada masanya.
Masa hidup Al-maturidi tersebut kebetulan berada di bawah penguasa samarkand yang terkenal luhur budi, cinta ilmu dan senantiasa memuliakan para ulama.
Berkuasanya keluarga Alu saman yang memiliki sifat-sifat demikian itu tentu bernilai sangat positif bagi masa hidup Al-maturidi yang terlahir sebagai ulama besar. Dan pada gilirannya memang berjasa besar terhadap popularitas serta eksistensi keilmual Al-maturidi.
Nasab dan garis keturunannya, para ahli sejarah berpendapat bahwa nasabnya bermuara pada seorang sahabat yang pernah disinggahi oleh Rosul. Ketika awal hijrahnya ke Madianah, yakni Abu Ayub Khalid bin Zaid bin Kulaib al-Ansari. Karena imam bayadi menyebutkan nama Al-maturidi dengan akhiran Al-ansari.
Penegasan tersebut sangat perlu, karena dengannya, akan terhindar dari kerancuan nama yang nyaris sama persis, yakni ismail  abu Mansur Al-maturidi. Al-maturidi yang ini adalah pensyarah kitab Al-fiqh Alasbat karya Imam Abu hanifah, dan bukan almaturidi yang kita maksud.
3. Guru dan Pembimbing
Sebagai pemburu berbagai bidang keilmuan, al-Maturidi praktis memiliki banyak guru yang sekaligus sebagai pembimbing keilmuannya. Menurut keterangan Dr fathullah khalif, al-Maturidi berguru pada ulama yang masanya yang silsilah keilmuannya sampai ke imam Abu Hanifah. Keterangan ini memberikan indikasi bahwa gurunya adalah ulama terkanal pada masanya.
Di antara guru Maturidi yang terkenal ialah Nasr bin Yahya al-Bakhi/ al-Balakhi ( W. 268 H) dia berguru ilmu kalam. Menurut al-Kafrawi bahwa Al-maturidi memperdalam ilmu-ilmu keagamaan kepada Abu baker Muhammad al-Jawzani yang bersilsilah keilmuan kepada Abu hanifah.
Sedangkan menurut al-Zubaidi, al-Maturidi adalah murid dari Imam Abu Baker Ahmad bin Ishaq bin Saleh al-Jawzani. Termasuk guru-guru Al-maturidi pula adalah Muhammad bin Mukatil Al-razi ( W.266 H/ 841 M).

B.     Karya- karya Al-maturidi
Berkat keluasan dan kedalaman ilmunya, maka karya-karya al-Maturidi  cukuplah banyak dan mencakup bidang keilmuan diantaranya:
  1. Ilmu kalam
a.       At-tawhid.
b.      Al-maqalat fii Al-kalam.
c.       Raddu Awail al Adilah Al ka’bi.
d.      Raddu wa’id al fussaq li al-ka’bi.
e.       Raddu tahzib al Jadl li al-ka’bi
f.       Bayabu wahm al-Mu’tazilah.
g.      Raddu al-usul al-khamsah li abi Muhammad al-bahili.
h.      Al-ra’du ala al-usul al-qaramithah
i.        Raddu Ali imamah li ba’di al-rawafid
j.        Al-usul fi Qoimat kutub Almaturidi.
  1. Tafsir Al-quran.
a.       At-ta’wilat Almaturidiyah Fi bayani usul Ahl Al-sunnah wa Usl al-tauhid.
  1. Fiqh dan Usul fiqh.
a.       maakiz al-Syaraa’i
b.      al-jadl.
  1. Lain- lain.
  1. Syarh Al-fqh al-akbar
  2. Aqidah al-maturidi.
  3. Rislah fi Al-aqoid
  4. Risalah ayat Al-quran yang tidak boleh yang dibaca waqaf. Risalah ini masih tersimpan di perpustakaan Dar al-kutub Al-misriyyah, mesir.
  5. Bunga rampai tentang nasehat agama ( Al-wa’zu). Menurut Broc kelmann, inipun termasuk karya al-Maturidi.

BAB II
MANHAJ Al-MATURIDI.

A. Metode Al-Maturidi dalam Beraqidah.
Dilatarbelakangi oleh tujuan untuk menolak kalam mu’tazilah, tetapi disisi lain di laterbelakangi pula oleh anutan madzhab fiqnya abu hanifah yang Ahl bil-ra’yi maka manhaj kalam yang dipilh oleh al-Maturidi nampak mengambil jalan sinthesa (Tawasut), antara naql dan akal. Dia lebih berani menggunakan kebebasan akal dalam memahami naql. Bebas dari ikatan fanatisme (ta’asub) tradisional tetapi tetap mempedomani naql sebagai kebenaran mutlak. Akal bukan disejajarkan dengan Naql, melainkan digunakan untuk memahami naql.
Dengan demikian, nampak pula bahwa manhaj kalam Al-maturidi berada pada posisi tengah antara manhaj kalam Al-asyari dan manhaj kalam Mu’tazilah. Dari sisi naql, manhaj Al-maturidi lebih dekat dengan manhaj al-Asyari. Sedangkan dari sisi penggunaan akal manhajnya lebih dengan dengan manhaj mu’tazilah.
Dengan mempertemukan dua manhaj tersebut, nampaklah bahwa Al-maturidi lebih tuntas dalam menyelesaikan konflik perdebatan kalam yang terjadi pada masanya.
Adapun posisi tengah (synthesa) yang di ambil al-Maturidi ialah menyatakan bahwa perbuatan manusia itu memang dilakukan sendiri atas pilihannya sendiri pula, tetapi di dalam perbuatan manusia itu Tuhan terlibat dalam hal menciptakan istita’ah pada diri manusia yang mempu menciptakan perbuatan. Dan keadilan tuhanlah membalas pebuatan yang diciptakan sendiri oleh si manusia, jika itu baik, maka manusia berhak mendapatkan pahala dan jika jahat, manusia wajib mendapatkan siksa.

BAB III
DOKTRIN TEOLOGIS

A.    Tentang sifat Tuhan.
  1. Tuhan Bersifat Immateri.
Menurut Al-maturidi Tuhan bersifat Immateri. Dia tidak bersifat dengan sifat-sifat materiil ( jasmaniyah). Karenanya ayat-ayat Al-quran yang seakan-akan menggambarkan bahwa Tuhan bersifat dengan sifat-sifat materiil, mutlak pemahamannya harus menggunakan ta’wil ( di artikan secara majazi/ metafora)
Berkenaan dengan itu maka kata-kata seperti: yad ( Tangan), wajh ( muka), dan A’yun( penglihatan yang di dinisbatkan kepada tuhan dalam-ayat-ayat yang artinya:
… Tangan Allah di atas tangan mereka… QS. Al-Fath: 10)
Yang dimaksud adalah” kekuasaan”, rahmat dan penguasaan.” Pengausaan tuhan atas makhluqnya.
Selanjutnya, Al-maturidi mendefinisikan materi ( Jism) sebagai istilah bagi sesuatu yang mempunyai arah, yang mempunyai akhir, atau yang mempunyai tiga dimensi ( tempat, ruang dan waktu). Kerenanya, jism mutlak tidak boleh di nisbatkan kepada Tuhan.
  1. Sifat Tuhan bukanlah sesuatu selain zat-Nya.
Pemikiran kalam Al-maturidi dalam hal menyatakan bahwa tuah bersifat, adalah parallel dengan pemikiran kalam al-Asyari. Namun selanjutnya, al-Maturidi menegaskan bahwa sifat tuhan itu tidak berdiri pada zat-Nya, serta tidak memiliki kainunah. Sifat hanyalah Al-af’al ( nama perbuatan).
  1. Sifat bukanlah Al-wasf dai wasif.
Al maturidi berpendapat bahwa sifat bukanlah Al-wasf ( penyifatan) dari wasif (yang disifati), melainkan nama pekerjaan ( asma al-af’al) keluarnya pekerjaan secara teratur, menjadi bukti mengetahui dan menguasai nama-nama itu. Sifat hanyalah nama tentang sifat itu sendiri, maka seandaiya sifat itu tidak dapat direalisasikan, berarti nama itu menjadi laqop ( gelar).
Wal hasil, al-Maturidi menetapkan bahwa sifat itu memiliki makna. Atau menafikan yang bertentangan dengan sifat, melainkan sifat itu harus memiliki makna hakiki yang tetap da bukan majazi.

B. Tentang kalam tuhan
1. kalam tuhan adalah makna yang ada dalam zatnya.
Menurut al-maturidi, kalam tuah adalah makna yang ada dalam zatnya.bukan berupa huruf-huruf atau kalimat-kalimatnya. Bukan berupa suara dan tidak dapat didengar suaranya. Ia bersifat qodim dan tidak diciptakan, kekal, satu, dan tak terbagi.  Bukan bahasa arab ataupun yang lain tetapi diolah ucapkan manusia dalam ekspresi yang berlainan.
2. kalam tuhan bukanlah makhluq.






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

KOMEN YOOOOOOOOOOOOO.........